Di tengah kekhawatiran akan krisis pangan global, ironi justru terjadi di meja makan masyarakat Indonesia. Setiap tahun, puluhan juta ton makanan berakhir di tempat pembuangan akhir, sementara masih banyak keluarga yang kesulitan memperoleh pangan bergizi.
Persoalannya bukan semata produksi yang kurang, melainkan budaya konsumsi yang belum berubah. Dari kesadaran itulah Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan mengajak penyelamatan pangan dimulai dari tindakan paling sederhana: menghabiskan makanan yang telah diambil.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Penyelamatan Pangan Tahun 2026 yang digelar Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Royal Bay Makassar, Selasa, 30 Juni 2026.
Pertemuan yang melibatkan Dinas Ketahanan Pangan 24 kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan serta berbagai unsur pemerintah, akademisi, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, hingga komunitas itu diarahkan untuk mencari strategi bersama menekan pemborosan pangan yang terus meningkat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. M. Ilyas, S.T., M.Sc., mengatakan Indonesia menghasilkan sekitar 23 hingga 40 juta ton sampah makanan setiap tahun, sementara sisa makanan menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah nasional. Menurutnya, tantangan tersebut tidak akan selesai hanya melalui kebijakan pemerintah.
“Mengimbau saja tidak cukup. Harus ada komitmen dan tindakan nyata dari semua pihak. Dulu orang tua mengajarkan agar tidak menyisakan makanan, bahkan sebutir nasi sekalipun karena itu adalah berkah. Nilai itu harus kita hidupkan kembali dalam kehidupan masyarakat saat ini,” kata Ilyas saat membuka kegiatan.
Jika pemerintah berbicara tentang kebijakan, Permabudhi Sulsel memilih berbicara mengenai perubahan cara pandang. Wakil Permabudhi Sulawesi Selatan, Suzanna, S.E., M.Pd., menilai akar persoalan food waste bukan berada di dapur atau tempat pembuangan akhir, melainkan di dalam pola pikir manusia yang cenderung mengambil lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
“Ketahanan pangan tidak hanya dibangun di sawah, tetapi juga di meja makan. Setiap makanan yang kita buang sesungguhnya ikut membuang air yang mengairi sawah, tanah yang menumbuhkan tanaman, tenaga petani, energi distribusi, hingga harapan banyak orang. Karena itu, menyelamatkan pangan adalah bentuk penghormatan terhadap kehidupan,” ujar Suzanna.
Melalui gerakan Ego to Eco, Permabudhi Sulsel mengajak masyarakat meninggalkan perilaku konsumtif menuju budaya konsumsi yang bertanggung jawab. Kampanye Makan Habis Tanpa Sisa, Cegah Berkah Menjadi Sampah, dan Bijak Plastik diposisikan bukan sekadar slogan lingkungan, melainkan pendidikan karakter yang diterapkan dalam keluarga, sekolah, vihara, kegiatan sosial, hingga ruang-ruang publik.
Gerakan itu kemudian diperkuat dengan Eco Dhamma sebagai pendidikan kesadaran dan Bio Berkah melalui pengolahan sampah organik menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Bagi Permabudhi Sulsel, penyelamatan pangan bukan hanya mengurangi sampah yang menuju tempat pembuangan akhir. Gerakan tersebut juga menyentuh persoalan perubahan iklim, kesehatan masyarakat, penghargaan terhadap hasil kerja petani, hingga penguatan ketahanan pangan daerah.
Semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula sumber daya alam yang sia-sia dan semakin besar peluang pangan dimanfaatkan secara adil.
Pertemuan itu memperlihatkan bahwa solusi krisis pangan tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit ataupun investasi yang mahal. Ia dapat dimulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Dari satu piring yang dihabiskan, lahir penghargaan terhadap pangan.
Dari penghargaan terhadap pangan, tumbuh kepedulian terhadap lingkungan. Dan dari kepedulian itulah, menurut Permabudhi Sulsel, ketahanan pangan yang berkelanjutan dapat dibangun bersama.








Komentar ditutup.