Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, semangat kebersamaan hadir dengan cara yang sederhana di Rumah Jabatan Bupati Pangkep. Sebanyak 50 anak dari keluarga kurang mampu mendapat layanan sunatan massal dalam sebuah kegiatan sosial lintas agama, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan di Gedung Bundar Rujab Bupati Pangkep itu diinisiasi ForumKerukuna Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Pangkep dan diselenggarakan bersama Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) Sulawesi Selatan serta Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Pangkep. Pemerintah Kabupaten Pangkep dan Ikatan Mahasiswa Kedokteran Buddhis Universitas Hasanuddin (IMKIS) turut mendukung kegiatan yang mempertemukan berbagai unsur tersebut.
Bagi Ketua FKUB Kabupaten Pangkep, Drs. KH. Abdul Waqi Murtala, M.M., kegiatan sosial menjadi salah satu cara konkret menunjukkan bahwa keberagaman dapat berjalan beriringan. Kerukunan, menurutnya, bukan hanya dibangun melalui pertemuan formal, tetapi juga melalui kepedulian yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kehadiran elemen lintas agama dalam kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Pangkep Yusran Lalogau, S.Pi., M.Si.. Ia menilai kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kerukunan dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata. Bukan sekadar berbicara tentang toleransi, melainkan hadir bersama ketika masyarakat membutuhkan.



Ketua PERMABUDHI Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Yonggris, M.M., menyebut kegiatan itu sebagai langkah awal yang penting. “Ini adalah sunatan massal pertama yang dibuat oleh FKUB Sulawesi Selatan. Dari hasil koordinasi dengan FKUB Pangkep, memang sangat dibutuhkan. Sebenarnya banyak anak-anak yang bisa disunat, tetapi karena ini yang pertama, kita mulai dengan 50 anak,” ujarnya.
“Ini adalah sunatan massal pertama yang dibuat oleh FKUB Sulawesi Selatan. Dari hasil koordinasi dengan FKUB Pangkep, memang sangat dibutuhkan. Sebenarnya banyak anak-anak yang bisa disunat, tetapi karena ini yang pertama, kita mulai dengan 50 anak,” ujarnya.
Menurut Yonggris, kemanusiaan memiliki ruang yang luas untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Kita saling berbagi karena hidup ini akan menjadi lebih indah, lebih baik apabila kita bisa saling membantu, saling peduli, dan saling membahagiakan,” katanya. Ia berharap momentum kemerdekaan juga semakin menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa dan kemanusiaan.
Sementara itu, Pembimas Buddha Sulawesi Selatan, Sumarjo, S.Ag., M.M., melihat kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata cinta kasih atau metta.
“Kegiatan sunatan massal ini merupakan wujud nyata kepedulian dan semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya. Nilai tersebut, kata dia, perlu diwujudkan melalui tindakan yang memberi manfaat tanpa membedakan latar belakang.






Bagi 50 anak penerima manfaat, kegiatan itu bukan sekadar agenda sosial dalam rangka menyambut kemerdekaan. Ada bantuan nyata yang meringankan keluarga sekaligus mempertemukan mereka dengan berbagai komunitas yang datang membawa kepedulian. Di sana, kerukunan hadir dalam bentuk yang paling sederhana: membantu.
Pangkep kemudian menunjukkan satu hal penting: kerukunan tidak selalu dimulai dari meja dialog. Ia bisa tumbuh dari ruang pelayanan, kepedulian, dan kerja bersama. FKUB Pangkep, PERMABUDHI Sulsel, PPNI, pemerintah daerah, dan berbagai unsur pendukung membuktikan bahwa ketika umat bergerak bersama, perbedaan justru menjadi energi untuk menghadirkan kemanusiaan.








Komentar ditutup.