Menu

Mode Gelap
Bulan Eco-Dhamma Nasional, Permabudhi Sulsel Tanam 300 Pohon di Pulau Kodingareng Menyambut Waisak dari Pulau, Lima Tahun Kolaborasi Kemanusiaan Permabudhi dan TNI AL Lurah Kodingareng: Permabudhi Sulsel Tinggalkan Amanah dan Kepedulian bagi Masyarakat Pulau Permabudhi Makassar Bangun Kesadaran Ekologi Anak Pesisir untuk Masa Depan Pulau Kodingareng Dari Sampah Menjadi Berkah: Jejak Eco-Dhamma Permabudhi di Pulau Kodingareng PERWADHI Sulsel Hadiri Harlah ke-80 Muslimat NU, Perkuat Sinergi Perempuan Lintas Iman

Berita

Lurah Kodingareng: Permabudhi Sulsel Tinggalkan Amanah dan Kepedulian bagi Masyarakat Pulau

badge-check


					Bapak Lurah Pulau Kodingareng, Sachrir, SE,. MM mencoba lubang biopori di Halaman Kantor Lurah. Perbesar

Bapak Lurah Pulau Kodingareng, Sachrir, SE,. MM mencoba lubang biopori di Halaman Kantor Lurah.

Suasana halaman Kantor Kelurahan Pulau Kodingareng Lompo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Makassar, tampak lebih ramai dari biasanya pada 28–29 April 2026. Warga, relawan, aparat kelurahan, hingga anggota Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Kota Makassar berkumpul di sejumlah titik sambil membawa bibit pohon, alat tanam, dan bahan organik untuk biopori.

Di tengah aktivitas itu, Lurah Kodingareng Sachrir, S.E., M.M., berdiri memperhatikan proses pembuatan biopori yang dilakukan bersama warga. Ia menyebut langkah sederhana tersebut memiliki manfaat besar bagi lingkungan pulau dalam jangka panjang.

“Hari ini kita menanam biopori untuk bahan komposter. Sampah organik ini nantinya akan menjadi penyubur tanaman,” ujarnya.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2570 BE/2026 dalam menyambut Hari Trisuci Waisak. Permabudhi Sulawesi Selatan menggelar bakti sosial kesehatan, gerakan penghijauan, dan edukasi cinta lingkungan di Pulau Kodingareng sebagai bentuk pengabdian sosial dan pelestarian lingkungan hidup.

Program itu dilaksanakan bersama Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VI yang selama ini menjadi mitra sosial Permabudhi dalam pelayanan masyarakat wilayah pesisir dan kepulauan. Kolaborasi tersebut menghadirkan berbagai kegiatan sosial yang langsung menyentuh kebutuhan warga pulau.

Tidak hanya penghijauan dan edukasi lingkungan, kegiatan itu juga menghadirkan layanan sosial kesehatan bagi masyarakat. Sachrir mengatakan keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut memberi dampak nyata bagi warga Kodingareng.

“Ada Kurang lebih 50 anak kami yang mengikuti sunnatan massal, 15 biopori dibuat sebagai percontohan, dan sekitar 300 bibit pohon ditanam di pulau ini,” katanya.

Menurut Sachrir, apa yang dilakukan Permabudhi menunjukkan bahwa nilai kepedulian kemanusiaan dapat diwujudkan melalui aksi nyata di tengah masyarakat. Ia menilai kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk perhatian terhadap kehidupan masyarakat pesisir yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan umat Buddha dalam mendukung pembangunan sosial dan lingkungan di Pulau Kodingareng. Bagi pemerintah kelurahan, gerakan seperti itu menjadi energi positif dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan memperkuat solidaritas sosial.

Di sejumlah titik pulau, warga terlihat menanam bibit pohon produktif dan pohon peneduh bersama relawan. Anak-anak sekolah ikut membantu membawa bibit, sementara sebagian warga lainnya mulai mempelajari cara pengelolaan limbah organik melalui biopori dan komposter sederhana.

Permabudhi Sulawesi Selatan memandang gerakan lingkungan tidak cukup berhenti pada penanaman pohon atau pembangunan fasilitas semata. Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama agar seluruh program dapat berjalan berkelanjutan dan memberi manfaat jangka panjang bagi wilayah kepulauan.

Menjelang akhir kegiatan, Sachrir kembali menegaskan harapannya agar seluruh program yang telah dilaksanakan dapat terus dijaga oleh masyarakat. Menurutnya, apa yang dibawa dan ditinggalkan Permabudhi di Pulau Kodingareng bukan sekadar bantuan sosial ataupun simbol kegiatan.

“Yang ditinggalkan di Pulau Kodingareng ini adalah amanah untuk masyarakat pulau,” ujarnya.

Di tengah ancaman sampah pesisir dan perubahan lingkungan yang semakin terasa, langkah-langkah kecil di Pulau Kodingareng menjadi penanda bahwa kepedulian sosial dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan. Dari biopori, bibit pohon, hingga edukasi lingkungan, Permabudhi dan masyarakat pulau sedang menanam sesuatu yang lebih besar: harapan tentang masa depan pesisir yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Baca Lainnya

Bulan Eco-Dhamma Nasional, Permabudhi Sulsel Tanam 300 Pohon di Pulau Kodingareng

8 Mei 2026 - 09:57 WITA

Menyambut Waisak dari Pulau, Lima Tahun Kolaborasi Kemanusiaan Permabudhi dan TNI AL

8 Mei 2026 - 09:20 WITA

Permabudhi Makassar Bangun Kesadaran Ekologi Anak Pesisir untuk Masa Depan Pulau Kodingareng

8 Mei 2026 - 07:53 WITA

Dari Sampah Menjadi Berkah: Jejak Eco-Dhamma Permabudhi di Pulau Kodingareng

8 Mei 2026 - 03:28 WITA

PERWADHI Sulsel Hadiri Harlah ke-80 Muslimat NU, Perkuat Sinergi Perempuan Lintas Iman

24 April 2026 - 07:16 WITA

Trending di Berita