Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) Kota Makassar bersama Pemerintah Kecamatan Wajo memanfaatkan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 untuk memperkuat kampanye pengurangan sampah makanan melalui peluncuran gerakan Chi Ganjing (Makan Habis Tanpa Sisa). Gerakan tersebut diperkenalkan dalam rangkaian peringatan yang berlangsung di SDN Sangir, Kelurahan Melayu Baru, Jumat, 5 Juni 2026.
Ketua PERMABUDHI Makassar, Suzanna SE, M.Pd., mengatakan persoalan sampah makanan menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, perubahan perilaku dalam mengonsumsi makanan merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap upaya pengurangan sampah.
Karena itu, PERMABUDHI Makassar menggandeng Pemerintah Kecamatan Wajo untuk memperkenalkan gerakan Chi Ganjing sebagai ajakan kepada masyarakat agar mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya tanpa menyisakan makanan yang berpotensi menjadi sampah.
Gerakan tersebut dituangkan dalam peluncuran Teba dilingkungan sekolah SDN Sangir dan dalam bentuk poster edukasi yang dibagikan kepada pelaku usaha hotel, restoran, kafe, rumah makan, hingga perusahaan sektor transportasi milik pemerintah maupun swasta. Kampanye ini diharapkan mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat melalui ruang-ruang publik yang setiap hari berinteraksi dengan konsumen.
Chi Ganjing sendiri diambil dari nilai budaya Tionghoa yang menekankan pentingnya menghargai makanan dan menghindari pemborosan. Nilai tersebut dinilai relevan dengan semangat pelestarian lingkungan karena sisa makanan merupakan salah satu penyumbang utama timbulan sampah organik di perkotaan.
Peluncuran gerakan Chi Ganjing menjadi salah satu agenda penting dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diprakarsai Pemerintah Kecamatan Wajo dan PERMABUDHI Makassar. Selain peluncuran poster, kegiatan juga diisi dengan aksi Jumat Bersih, penandatanganan komitmen pemilahan sampah bersama pelaku usaha Horeca dan PT. Pelindo, pemberian bantuan teknologi tepat guna, pembagian bibit tanaman, hingga demonstrasi pengolahan sampah oleh TPS3R Satando.
Camat Wajo Ivan Kala’lembang, S.H., M.H menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak boleh berhenti sebagai simbol atau seremoni belaka.
“Chi Ganjing bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi lokomotif perubahan perilaku masyarakat. Dari kebiasaan membuang sampah menjadi memilah dan mengelola sampah dari sumbernya,” kata Ivan.
Sementara itu, Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa mengingatkan bahwa upaya mengurangi volume sampah harus dimulai dari rumah tangga. Menurutnya, semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula beban yang harus ditanggung tempat pembuangan akhir.
Melalui gerakan Chi Ganjing, PERMABUDHI Makassar dan Pemerintah Kecamatan Wajo berharap kesadaran masyarakat untuk menghargai makanan, mengurangi pemborosan, serta mengelola sampah dari sumbernya dapat terus tumbuh. Langkah kecil berupa menghabiskan makanan di piring dinilai dapat menjadi kontribusi nyata dalam mendukung terwujudnya Makassar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.







