Pulau Kodingareng Lompo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Makassar, tampak mengalami perubahan kecil yang mencolok pada akhir April 2026. Di sejumlah sudut pulau, warga bersama relawan Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan melakukan penanaman ratusan bibit pohon dalam rangka gerakan penghijauan Bulan Eco-Dhamma Nasional.
Kegiatan yang digelar pada 28–29 April 2026 ini merupakan bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2570 BE/2026 dalam menyambut Hari Trisuci Waisak. Selain kegiatan bakti sosial dan layanan kesehatan, fokus lain yang diangkat adalah pelestarian lingkungan serta penguatan ketahanan pangan masyarakat di wilayah kepulauan.
Total 300 bibit pohon ditanam di berbagai lokasi, mulai dari area pemukiman, fasilitas umum, sekolah, hingga kawasan pesisir. Bibit yang ditanam terdiri dari pohon buah, tanaman peneduh, serta tanaman hias yang diproyeksikan tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekologis bagi warga.
Jenis tanaman buah yang ditanam di antaranya jambu kristal, dan jeruk nipis. Sementara untuk penghijauan dan estetika lingkungan, turut ditanam ketapang kencana, mahoni, serta pucuk merah. Kombinasi ini diharapkan dapat memperkuat fungsi ekologis sekaligus menciptakan ruang hijau yang lebih nyaman di kawasan pulau.

Ketua Permabudhi Sulsel, Dr. Ir. Yonggris, M.M., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata penerapan nilai-nilai kepedulian terhadap alam dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, aksi menanam pohon menjadi langkah sederhana namun berdampak jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan.
“Harapan kami, Kodingareng bisa merasakan dampak positif dari gerakan ini. Lingkungan yang lebih bersih, masyarakat yang lebih sejahtera, dan kualitas hidup yang semakin baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa gerakan penghijauan tidak hanya menyasar aspek lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan masyarakat pulau. Pohon buah yang ditanam diharapkan dapat menjadi sumber pangan tambahan di masa depan, sementara pohon peneduh dan tanaman hias berperan menjaga keseimbangan ekosistem.
Selain penanaman pohon, kegiatan ini juga disertai pembuatan lubang biopori di beberapa titik permukiman dan fasilitas umum. Langkah ini ditujukan untuk mengelola limbah organik rumah tangga agar dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.
Program penghijauan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Permabudhi Sulsel dan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VI yang selama lima tahun terakhir aktif bekerja sama dalam kegiatan sosial di wilayah pesisir dan kepulauan. Sinergi ini mencakup bidang kesehatan, lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Wakil Komandan Kodaeral VI, Laksamana Pertama TNI Dr. Arya Delano, yang turut meninjau kegiatan di lapangan, juga mengiringi pelaksanaan Program Laut Bersih (Prolasi) bersama masyarakat dan pelajar. Aksi tersebut difokuskan pada pembersihan sampah plastik di kawasan pesisir Pulau Kodingareng.
Bagi Permabudhi Sulsel, persoalan lingkungan di wilayah kepulauan tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyasar perubahan kesadaran kolektif warga.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan lingkungan pesisir, ratusan pohon yang ditanam di Pulau Kodingareng menjadi simbol upaya jangka panjang membangun ruang hidup yang lebih hijau. Dari pulau kecil di Makassar itu, gerakan Eco-Dhamma diharapkan terus tumbuh sebagai bagian dari kesadaran bersama menjaga bumi.







