Puluhan siswa UPT SPF SD Negeri Kodingareng memenuhi Aula Kelurahan Pulau Kodingareng pada Selasa, 28 April 2026. Sejak pagi, suasana tampak ramai oleh antusiasme anak-anak yang mengikuti edukasi cinta lingkungan yang digelar Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Kota Makassar.
Di hadapan para siswa, relawan memperkenalkan persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan kawasan pesisir dan kepulauan. Anak-anak diajak memahami perbedaan sampah organik dan anorganik, cara memilah limbah rumah tangga, hingga pengenalan biopori sebagai solusi sederhana pengelolaan sampah organik.
Tidak sedikit siswa yang baru mengetahui bahwa sisa makanan, daun kering, dan limbah dapur dapat diolah kembali menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman. Dalam sesi praktik, para siswa tampak aktif bertanya tentang cara menggunakan biopori dan menjaga lingkungan sekitar rumah mereka.
Permabudhi memandang edukasi menjadi langkah paling mendasar dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat pulau. Sebab, persoalan sampah di wilayah pesisir tidak cukup diselesaikan hanya melalui fasilitas pengolahan, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku masyarakat sejak usia dini.
Seorang guru, Muhammad Firdaus yang terlibat dalam kegiatan tersebut mengatakan pendidikan lingkungan sangat penting bagi anak-anak pesisir dan kepulauan. Menurutnya, pemahaman yang diberikan hari ini akan menentukan kondisi Pulau Kodingareng di masa depan.
“Kodingareng sepuluh tahun mendatang ditentukan oleh perilaku masyarakat hari ini. Kalau anak-anak dibiasakan peduli lingkungan sejak sekarang, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang menjaga pulau mereka sendiri,” ujarnya.



Ketua Permabudhi Kota Makassar, Suzanna, S.E., M.M., mengatakan bahwa program cinta lingkungan di sekolah merupakan investasi jangka panjang yang harus terus diperkuat. Menurutnya, anak-anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut diharapkan menjadi pelopor dan duta lingkungan di tengah masyarakat.
“Pondasi paling dasar adalah edukasi bagi anak-anak kita. Semua sistem dan infrastruktur pengelolaan sampah akan berjalan maksimal jika disertai kesadaran bersama,” kata Suzanna.
Persoalan sampah di kawasan kepulauan sekitar Makassar hingga kini masih menjadi tantangan yang terus berulang. Selain sampah kiriman dari laut, tingginya penggunaan plastik rumah tangga juga menjadi penyumbang limbah di kawasan pesisir. Di sisi lain, Pulau Kodingareng telah memiliki insinerator ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya penanganan sampah.
Namun bagi Permabudhi, infrastruktur saja tidak cukup. Karena itu, edukasi berkelanjutan kepada masyarakat dan anak sekolah dinilai menjadi kunci penting dalam membangun pola hidup bersih, sehat, dan ramah lingkungan.
Selain edukasi kepada siswa, Permabudhi juga mendorong penguatan pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui bank sampah dan ekonomi sirkular. Warga didorong mengolah limbah plastik menjadi barang bernilai ekonomis, sekaligus memperkuat budaya gotong royong melalui kelompok pengelola sampah di tingkat lingkungan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan Bulan Eco-Dhamma Nasional dan rangkaian Vesakha Sananda 2570 BE/2026 dalam menyambut Hari Trisuci Waisak. Melalui langkah sederhana di ruang kelas pesisir itu, Permabudhi berharap tumbuh generasi baru yang memandang lingkungan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang hidup yang harus dijaga bersama demi Kodingareng yang berkelanjutan.







