Perdamaian tidak berhenti pada pesan, tetapi perlu diwujudkan dalam langkah dan tindakan. Semangat itu hadir melalui Peace Walk bertema “Walk for Peace, Act for Earth”, Minggu, 27 September 2026, yang mengajak peserta menjelajahi ruang-ruang kota, membaca kembali ingatan konflik, sekaligus melakukan aksi nyata untuk lingkungan.
Berangkat dari Gedung Kesenian Makassar, peserta berjalan melintasi sejumlah ruang yang merekam perjalanan konflik dan perdamaian di Kota Makassar. Setiap titik menjadi ruang refleksi untuk memahami kembali pengalaman masa lalu sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa perdamaian perlu dirawat bersama.
Perjalanan diawali dengan mengunjungi Vihara Ibu Agung Bahari, tempat yang menyimpan ingatan konflik berupa pembakaran rumah ibadah. Peserta kemudian bergerak ke Gereja Emanuel untuk berbagi dan berdiskusi bersama LBH Makassar serta Aliansi Mahasiswa Papua mengenai kondisi demokrasi dan kehidupan kebangsaan.
Langkah berikutnya menuju Gereja Katedral Makassar dan Monumen Pengampunan, yang berada di lokasi tragedi bom bunuh diri pada 2021. Ruang tersebut menjadi bagian dari refleksi tentang luka, pengampunan, dan pentingnya menjaga perdamaian di tengah keberagaman masyarakat.
Ketua PERMABUDHI Makassar, Suzanna. S.E., M.Pd, menempatkan Peace Walk bukan sekadar perjalanan untuk membangun perdamaian antarmanusia. Menurutnya, berjalan untuk perdamaian juga perlu dilanjutkan dengan membangun kesadaran untuk berdamai dengan alam, karena kehidupan manusia dan keberlanjutan lingkungan saling berkaitan.
Pesan tersebut kemudian diwujudkan melalui aksi lingkungan di kanal sekitar Benteng Fort Rotterdam dengan menuangkan eco enzyme. Aksi ini menjadi simbol bahwa Walk for Peace harus berlanjut menjadi Act for Earth — dari refleksi tentang konflik menuju tindakan merawat bumi. Kegiatan merupakan kolaborasi Jejaring Aliansi Perdamaian, PERMABUDHI Sulsel, PERMABUDHI Makassar, Keuskupan Agung Makassar, PGI Sulsebara, LBH Makassar, Yayasan Butta Porea, dan Komunitas Manggala Tanpa Sekat.








Komentar ditutup.