Menu

Mode Gelap
Permabudhi Sulsel Hadiri Buka Puasa Bersama Keuskupan Agung Makassar, Meneguhkan Persaudaraan Lintas Iman Menyelami Tradisi Arak-Arakan Dewa di Jappa Jokka Cap Go Meh Harlah GEMABUDHI ke-40 dan 1 Tahun Kepengurusan GEMABUDHI Sulawesi Selatan: Sosialisasi dan Penuangan Eco Enzyme di Kanal Jongaya Empat Dekade GEMABUDHI: Momentum Transformasi dan Ekspansi Gerakan Pemuda Buddhis dari Daerah ke Nasional Permabudhi Sulsel Dukung Festival Mulia Ramadan, Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi Sosial di Makassar Hangatnya Pertemuan Pemuda Hindu-Buddha: Gemabudhi dan Peradah Sulsel Perkuat Barisan di PAKEMDA

Berita

Menyelami Tradisi Arak-Arakan Dewa di Jappa Jokka Cap Go Meh

badge-check


					Menyelami Tradisi Arak-Arakan Dewa di Jappa Jokka Cap Go Meh Perbesar

"Cap Go Meh artinya malam ke-15. Ini menandai malam terakhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Prosesnya 15 hari, tidak selalu harus pas di hari ke-15 intinya masuk dalam 15 hari itu. Di Makassar prosesi arak-arakan dirayakan di akhir pekan, dengan mempertimbangkan tidak membuat aktivitas masyarkat terganggu, sebab perayaan ini harus dirasakan manfaatnya untuk semua pihak”

”Dum… dum… dum…”

Bunyi gendang mulai bertalu-talu dan menggema dari halaman Vihara Istana Dewi Kwan Im. Langit Kota Makassar sore yang semula berwarna abu gelap menutup sebagian besar permukaan langit perlahan berubah jingga.

Aroma dupa terbakar menguar, berbaur membentuk garis-garis tipis di udara seiring wangi kertas sembahyang yang dinyalakan umat. Asapnya naik perlahan, menambah kesan sakral. Suasana yang semula redup berubah hangat, seolah alam turut memberi ruang bagi dimulainya ritual.

Cap Go Meh disebut Yuan Xiao Jie yang merupakan puncak dari rangkaian Tahun Baru Imlek. Dirayakan pada hari ke-15 setelah Imlek, perayaan ini menandai puncak sekaligus penyempurna doa dan harapan di awal tahun. Sejak ribuan tahun, festival ini diwariskan sebagai simbol kesatuan, kebersamaan, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Di Makassar, prosesi arak-arakan dewa tidak hanya dipandang sebagai tradisi budaya semata. Bagi umat, perjalanan mengarak para dewa menyusuri jalan-jalan kota juga dimaknai sebagai doa bagi kehidupan masyarakat. Dalam istilah masyarakat lokal dikenal sebagai mappasili kota — sebuah proses simbolik untuk membersihkan kota sekaligus memohon restu bagi kehidupan yang lebih baik.

Tradisi ini menjadi bentuk spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat kota yang majemuk. Tidak hanya disaksikan oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga warga dari berbagai latar belakang yang turut berdiri di tepi jalan, menyaksikan tandu para dewa melintas perlahan.

Berakar dari masa Dinasti Han di Tiongkok, ketika ritual penghormatan kepada Dewa Tertinggi, Thai Yi, dilakukan dengan membawa lentera. Awalnya hanya digelar di lingkungan istana, namun kemudian menjadi tradisi rakyat yang terbuka. Dari situlah festival lampion, arak-arakan naga, barongsai, hingga pawai tatung berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Sesaat sebelum mengeluarkan dewa-dewi dari altarnya, seorang pembawa panji berdiri tegak di depan barisan. Sebagai simbol Taoisme, panji pembuka diarahkan pada berbagai sisi sebagai bentuk penghormatan kepada tiga penjuru. Gerakan dilakukan untuk membuka gerbang tak kasatmata antara dunia manusia dan alam spiritual.

Cambuk kemudian dihentakkan ke tanah. Dalam kepercayaan setempat, hentakan cambuk merupakan tanda tolak bala serta pengusir energi negatif yang berupaya menghalangi jalannya prosesi. Tiga batang dupa pun dinyalakan mengisyaratkan keharuman persembahan bagi dewa-dewi dengan alunan doa-doa dalam bahasa Mandarin dan dialek lokal. Percikan air suci ikut ditebarkan ke arah patung dan barisan peserta arak-arakan sebagai ikon pembersihan.

Ketika suasana mencapai puncak khidmatnya, patung Dewi Kwan Im perlahan diangkat. Patung dengan ornamen di sekitarannya tersebut menjadi pusat perhatian karena vihara tersebut memang didedikasikan untuknya. Dalam keyakinan umat, Dewi Kwan Im adalah simbol belas kasih dan pelindung umat manusia.

Di tiap baris arak-arakan juga, para peserta kio bersiap dengan formasi masing-masing. Menurut Koordinator Lapangan Prosesi sekaligus Koordinator Kio, Anggota Bidang Hukum Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) dan Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) Sulawesi Selatan, Louis Adi, setiap kio memiliki ciri berbeda sesuai dewa yang diusung. Perbedaan atribut tersebut menjadi penanda identitas dewa yang diwakili, sehingga masyarakat yang menyaksikan dapat mengenali sosok yang sedang diarak.

Kio adalah tandu tradisional berbentuk menyerupai singgasana kecil atau altar mini yang digunakan dalam arak-arakan Tionghoa untuk mengusung patung dewa, raja leluhur, atau rupang suci berkeliling kawasan, seperti Kampung Cina atau sekitar kelenteng. 

Struktur kio terbuat dari kayu yang kokoh, dihias dengan ukiran, ornamen emas, serta kain berwarna merah dan kuning yang melambangkan keberuntungan dan kemuliaan. Di bagian tengahnya diletakkan patung dewa-dewi yang telah melalui ritual sembahyang sebelum diarak.

Kio dipikul oleh beberapa orang secara bergantian. Saat prosesi berlangsung, gerakan tandu digoyangkan secara ritmis sebagai simbol kehadiran dan respon spiritual dari dewa yang diusung. Karena itu, kekompakan para pemikul menjadi penting agar tandu tetap seimbang dan prosesi berjalan lancar.

Keseluruhan barisan memperlihatkan perpaduan antara unsur religius, tradisi, dan kekayaan visual dalam satu rangkaian prosesi. Prosesi arakan dimulai dari Jalan Diponegoro, kemudian bergerak menuju Jalan Sangir dan melintasi Jalan Sulawesi. Sebelum arak-arakan utama berlangsung, rombongan terlebih dahulu bergabung dengan barisan kebhinekaan dan budaya dalam rangkaian pembukaan resmi.

Pada sisi lain barisan, dapat dijumpai barongsai diikuti tabuhan rebana dan dentum bedug berpadu dengan gerak lincah barongsai, menghadirkan pemandangan yang tak biasa. Uniknya, para pemainnya bukan hanya warga Tionghoa, tetapi juga para santri dari DDI Galesong Baru Makassar. Tak jauh di belakangnya, tari naga meliuk-liuk panjang, dimainkan oleh belasan orang yang memegang tongkat di bawah tubuh naga.

Mengarak Restu untuk Kota

Sekitar 45 orang tua-tua Minahasa dan Tangsing/tatung juga turut hadir meramaikan prosesi. Tatung adalah individu yang dipercaya mampu menjadi medium bagi roh-roh dewa atau leluhur.

Kehadiran para medium spiritual ini juga memiliki makna tersendiri dalam tradisi keagamaan Tionghoa. Tokoh spiritual Fashi menjelaskan bahwa dalam prosesi seperti ini, keberadaan tangsin menggambarkan hubungan antara alam spiritual dan kehidupan manusia.

“Tangsin adalah manifestasi dari langit, di mana kehidupan di langit digambarkan di kehidupan duniawi.”

Tatung dengan tubuh yang tampak kebal, beberapa di antara mereka menusukkan benda tajam ke pipi dan lidah tanpa terlihat kesakitan. Mata yang tampak, dengan pemandangan kosong seolah sedang berada di alam lain.

Di antaranya ada bendera di sekitaran tatung, berfungsi sebagai penghalau jika ada “serangan” dari luar saat roh telah masuk ke dalam diri mereka. Bagi sebagian orang, atraksi ini mungkin tampak ekstrem, namun bagi umat yang percaya, hal tersebut merupakan manifestasi kekuatan spiritual dan perlindungan ilahi.

Ketika ditanya apakah doa-doa yang dipanjatkan dalam prosesi tersebut hanya ditujukan bagi umat Tionghoa, Fashi menjelaskan bahwa nilai spiritualitas yang dibawa para dewa bersifat universal.

“Karena sifatnya para Dewata itu cinta kasih dan welas asih, jadi itu seluruh umat manusia yang ada di dunia. Tidak terlepas dari golongannya apa, dari agamanya apa. Itulah sifat cinta kasih dari para dewa-dewi.”

“Karena di mata spiritualitas itu tidak ada perbedaan, baik suku, ras, ataupun agama. Adalah kita satu.” Sambungnya.

Ketua Persaudaraan Peranakan Tionghoa Makassar (P2TM), Ir. Arwan Tjahjadi yang juga hadir dalam perayaan tersebut, menyampaikan kekagumannya. Ia menilai atraksi tatung sebagai warisan budaya yang memiliki akar dari Tiongkok, namun di Makassar mendapat sentuhan lokal yang khas.

“Ini kesempatan besar bagi Makassar untuk dikenal melalui kebudayaan dan spiritualitasnya,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).

Bagi masyarakat Tionghoa, Cap Go Meh adalah ungkapan syukur sekaligus permohonan agar segala urusan di masa mendatang berjalan lancar. Namun di Makassar, maknanya meluas menjadi simbol kebersamaan lintas budaya. Kehadiran tu’a-tu’a Minahasa, perpaduan tradisi Tionghoa dan Nusantara, serta keterlibatan berbagai komunitas menunjukkan bahwa perayaan ini telah menjadi milik bersama.

Ketika arak-arakan kembali ke vihara, malam telah turun sepenuhnya. Gendang dipukul terakhir kali, cambuk dihentakkan sebagai penutup, dan doa kembali dipanjatkan. Patung Dewi Kwan Im diletakkan kembali di altar dengan penuh hormat. 

Wajah-wajah lelah namun bahagia memenuhi halaman. Langkah para pemikul kio perlahan berhenti. Namun bagi mereka yang percaya, perjalanan itu sesungguhnya tidak berhenti di halaman vihara. Sepanjang jalan yang dilalui, doa-doa telah diarak bersama—membawa harapan agar kota tetap berada dalam keberkahan.

Tokoh spiritual Fashi menjelaskan bahwa dalam tradisi tersebut terdapat doa lama yang dikenal dalam ungkapan Hong Tiauw Ou Sun Kok Thay Min An, yang bermakna harapan agar curah hujan dan angin berjalan selaras, panen raya berkembang, rakyat hidup makmur, dan pemerintahan pun dapat berjalan dengan baik.

Menurutnya, itulah makna terbesar dari prosesi arak-arakan para dewa. Ia berharap segala unsur kehidupan dapat berjalan selaras—alam yang seimbang, hubungan manusia yang rukun, serta pemerintahan yang mampu membawa kesejahteraan—sehingga pada akhirnya tercipta kedamaian bagi semua.

Di tengah gemerlap lampion yang mulai redup dan langkah peserta yang perlahan kembali pulang, prosesi itu seolah meninggalkan jejak harapan di jalan-jalan kota: sebuah perjalanan spiritual yang bukan hanya mengarak patung dewa, tetapi juga mengarak restu bagi Makassar dan kehidupan yang damai bagi seluruh warganya.

____________________________
Penulis : Nadhilla Putri Hasir & Baidanu
Editor : M. Amin R

Baca Lainnya

Permabudhi Sulsel Hadiri Buka Puasa Bersama Keuskupan Agung Makassar, Meneguhkan Persaudaraan Lintas Iman

9 Maret 2026 - 12:58 WITA

Harlah GEMABUDHI ke-40 dan 1 Tahun Kepengurusan GEMABUDHI Sulawesi Selatan: Sosialisasi dan Penuangan Eco Enzyme di Kanal Jongaya

8 Maret 2026 - 12:01 WITA

Empat Dekade GEMABUDHI: Momentum Transformasi dan Ekspansi Gerakan Pemuda Buddhis dari Daerah ke Nasional

19 Februari 2026 - 03:24 WITA

Permabudhi Sulsel Dukung Festival Mulia Ramadan, Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi Sosial di Makassar

19 Februari 2026 - 02:49 WITA

Hangatnya Pertemuan Pemuda Hindu-Buddha: Gemabudhi dan Peradah Sulsel Perkuat Barisan di PAKEMDA

9 Februari 2026 - 14:59 WITA

Trending di Berita