Menu

Mode Gelap
Wanita PERMABUDHI Sulsel Rayakan Kemerdekaan dengan Berbagi Kebahagiaan dan Fangshen Kakanwil Kemenag Sulsel: Dari Sulsel Kita Kirim Support Spiritual untuk Bangsa Wakil Ketua FKUB Sulsel: Kemerdekaan Belum Lengkap Tanpa Kerukunan Ketua PERMABUDHI Sulsel dorong Harmoni Kemerdekaan jadi Budaya Keagamaan Pembimas Buddha Sulsel : Tak Hanya Dirayakan, Diharapkan Harmoni Kemerdekaan Tinggalkan Makna Ketua PERMABUDHI Makassar: Harmoni Kemerdekaan Jadi Ruang Temu Lintas Iman

Berita

Harmoni Kemerdekaan di Sulsel : Sinergi Lintas Agama Menyalakan Harapan, Merawat Persatuan

badge-check

Harmoni Kemerdekaan di Sulsel : Sinergi Lintas Agama Menyalakan Harapan, Merawat Persatuan Perbesar

Ratusan peserta memenuhi tribun Taman Pakui Sayang, Makassar, Minggu (16/8/2026) malam. Dalam suasana hening dan penuh perenungan, umat lintas agama berkumpul dalam Harmoni Kemerdekaan: Malam Renungan dan Doa Kebangsaan Lintas Agama, menghayati kemerdekaan sekaligus meneguhkan komitmen merawat persatuan Indonesia.

Mengusung tema “Merawat Harmoni, Meneguhkan Persatuan untuk Indonesia Maju”, kegiatan ini mempertemukan umat dari berbagai majelis agama, tokoh dan rohaniawan lintas agama, jajaran Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan dan Kementerian Agama Kota Makassar, FKUB Sulsel, pimpinan pondok pesantren, KUA, serta komunitas pegiat keberagaman dan perdamaian. Kehadiran semuanya menjadi gambaran bahwa kemerdekaan juga dirayakan melalui ruang perjumpaan dan kebersamaan.

Kegiatan ini diinisiasi Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) Sulawesi Selatan bersama Kanwil Kemenag Sulsel, diselenggarakan bersama FKUB Sulsel dan PELITA Sulsel, serta didukung majelis-majelis agama di Sulawesi Selatan, yakni Keuskupan Agung Makassar, MUI Sulsel, PGIW Sulselra, PHDI Sulsel, dan MATAKIN Sulsel. Ketua PERMABUDHI Sulsel, Dr. Ir. Yonggris, M.M., menyebut kegiatan tersebut sebagai momentum untuk mempertemukan dan mempersatukan spirit kebangsaan di tengah keberagaman spiritual.

“Ini adalah momen spesial yang bisa kita gunakan bersama-sama untuk mempersatukan spirit kebangsaan kita dalam keberagaman spiritual,” ujar Yonggris.

Kakanwil Kemenag Sulsel, Dr. H. Ali Yafid, M.Pd.I., mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas majelis agama menjadi ruang perjumpaan yang penting, terutama dalam momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menekankan bahwa harmoni kemerdekaan merupakan bagian dari upaya memperkuat kerukunan, kesetaraan, keselarasan, keserasian, dan persatuan.

“Di Sulawesi Selatan ini kita mendorong semua untuk merdeka—merdeka dari kebencian, kemarahan, dan permusuhan,” katanya.

Renungan disampaikan secara bergantian oleh perwakilan majelis agama. MUI Sulsel membawa pesan “Doa untuk Tanah Air”, mengajak peserta mengenang pengorbanan para pejuang dan mendoakan Indonesia agar semakin rukun, damai, adil, dan sejahtera. PERMABUDHI Sulsel melalui pesan “Menyalakan Cahaya” mengajak peserta melihat setiap kebaikan sebagai cahaya yang dapat menyalakan cahaya lainnya. Keuskupan Agung Makassar menyampaikan refleksi “Kasih yang Menyatukan, sementara PGIW Sulselra mengajak peserta memikirkan warisan kerukunan yang akan diberikan kepada generasi mendatang.

Pesan harmoni juga hadir melalui renungan PHDI Sulsel tentang pentingnya hidup selaras dengan sesama dan alam, serta refleksi MATAKIN Sulsel tentang “Satu Tanah Air”. Seluruh renungan bermuara pada satu pesan kebangsaan: meskipun masyarakat Indonesia datang dari rumah ibadah dan tradisi spiritual yang berbeda, seluruhnya berpijak pada tanah air yang sama dan memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga persaudaraan.

Suasana malam semakin hidup melalui pentas seni lintas agama. Tari Segar Jagad dipersembahkan umat Hindu, puisi kasih sayang kemanusiaan dibawakan dari umat Katolik, lantunan lagu kebangsaan hadir dari umat Kristen, sementara umat Buddha mempersembahkan lagu “Aku Kamu untuk Indonesia”. Setelah itu, doa kebangsaan dipanjatkan oleh rohaniawan dari enam agama: Islam, Buddha, Hindu, Konghucu, Katolik, dan Kristen, menjadi satu rangkaian doa untuk kedamaian dan masa depan Indonesia.

uncak Harmoni Kemerdekaan ditandai dengan penyalaan lilin dan lampion, yang dilanjutkan dengan lantunan bersama lagu “Bagimu Negeri”. Ratusan cahaya yang menyala menjadi simbol harapan bersama untuk Indonesia yang damai, rukun, adil, dan maju. Dari satu cahaya yang diteruskan ke cahaya lainnya, tercipta pesan kuat bahwa menjaga persatuan dan masa depan Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa.

Harmoni Kemerdekaan pun menjadi perayaan kemerdekaan yang tidak sekadar mengenang masa lalu, tetapi menyalakan harapan dan menjaga persatuan untuk masa depan Indonesia.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Wanita PERMABUDHI Sulsel Rayakan Kemerdekaan dengan Berbagi Kebahagiaan dan Fangshen

18 Agustus 2026 - 08:46 WITA

Kakanwil Kemenag Sulsel: Dari Sulsel Kita Kirim Support Spiritual untuk Bangsa

18 Agustus 2026 - 07:29 WITA

Wakil Ketua FKUB Sulsel: Kemerdekaan Belum Lengkap Tanpa Kerukunan

18 Agustus 2026 - 07:21 WITA

Ketua PERMABUDHI Sulsel dorong Harmoni Kemerdekaan jadi Budaya Keagamaan

18 Agustus 2026 - 07:12 WITA

Pembimas Buddha Sulsel : Tak Hanya Dirayakan, Diharapkan Harmoni Kemerdekaan Tinggalkan Makna

18 Agustus 2026 - 07:01 WITA

Trending di Berita