Ketua GEMABUDHI Sulawesi Selatan, Enrique Justine Sun, S.Kom., hadir mewakili Majelis Agama Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) Sulawesi Selatan pada Seminar Nasional “Kolaborasi Lintas Elemen Mewujudkan Sulsel Bebas Narkoba” di Swiss-Bellin Hotel Panakkukang, Jumat (21/8/2026).
Seminar yang diinisiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel bersama Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) MUI tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi lintas agama, generasi, dan elemen masyarakat dalam upaya bersama menghadapi ancaman narkoba.
Enrique hadir bersama pengurus PERMABUDHI Sulsel bidang hukum, membawa pesan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam gerakan pencegahan narkoba. Menurutnya, persoalan narkotika tidak dapat hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah, tokoh agama, organisasi kepemudaan, dunia pendidikan, keluarga, dan masyarakat.
“Narkoba bukan hanya persoalan hukum. Ini persoalan masa depan. Ketika satu anak muda kehilangan masa depannya karena narkoba, ada orang tua yang kehilangan harapan, dan ada lingkungan sosial yang ikut terdampak.,” ujar Enrique.
Ia menegaskan, kolaborasi yang dibangun melalui seminar nasional tersebut harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat. GEMABUDHI Sulsel memandang generasi muda bukan sekadar kelompok yang harus dilindungi dari narkoba, tetapi juga kekuatan yang harus dilibatkan secara aktif dalam upaya pencegahan.
Pandangan tersebut sejalan dengan Wakil Ketua MUI Sulsel, KH. Mustari Bosra, M.A., yang menekankan bahwa narkoba merupakan persoalan bersama yang tidak hanya menyangkut aspek hukum, tetapi juga kesehatan dan masa depan generasi penerus.
Sementara itu, Ketua Ganas Annar PP MUI, Dr. Ir. Noor Sidharta, M.H., MBA., mengingatkan bahwa ancaman narkotika telah memasuki berbagai sektor kehidupan termasuk lembaga keagamaan, sehingga seluruh elemen perlu bergandengan tangan dan tidak boleh lengah.
Dari sisi penegakan hukum, Direktur Reserse Narkoba Polda Sulsel, Kombes Pol. Sugeng Sudarso, memaparkan bahwa posisi geografis dan demografis Indonesia turut menjadi tantangan dalam pemberantasan peredaran gelap narkotika.
Ia menyoroti banyaknya jalur masuk dan distribusi, pemanfaatan pelabuhan rakyat, perkembangan teknologi, hingga jaringan narkotika yang semakin adaptif. Hal ini menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi ancaman narkoba.
GEMABUDHI Sulsel menilai semangat kolaborasi yang dibangun melalui forum tersebut perlu diteruskan dalam langkah-langkah nyata yang melibatkan seluruh elemen dan lintas generasi.
“Seminar ini menjadi awal yang baik untuk memperkuat komitmen bersama. Harapannya, semangat kolaborasi tidak berhenti di forum ini, tetapi terus diwujudkan melalui langkah nyata di keluarga, lingkungan pendidikan, komunitas, dan masyarakat. Sulsel bebas narkoba adalah tanggung jawab kita bersama,” Tutup Enrique.








Komentar ditutup.