Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menerima audiensi Permabudhi Kota Makassar dan panitia pelaksana Festival Jappa Jokka Cap Go Meh 2026 di Kantor Wali Kota Makassar, Kamis, 22 Januari 2026. Pertemuan tersebut membahas rencana penyelenggaraan Perayaan Imlek 2026 di Kota Makassar yang akan kembali digelar di Jalan Sulawesi dan dirangkai dengan berbagai agenda budaya, sosial, serta keagamaan.
Dalam audiensi tersebut, Wali Kota Makassar didampingi oleh Andi Patiware Bau Djemma selaku Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar dan Achmad Hendra Hakamuddin selaku Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar.
Sementara dari unsur umat Buddha dan pelaksana hadir Dr. Ir. Yonggris., M.M., Ketua Permabudhi Sulawesi Selatan; Suzanna, S.E., M.Pd., Ketua Permabudhi Kota Makassar sekaligus Ketua Panitia Jappa Jokka Cap Go Meh 2026; Sumarjo, S.Ag., M.M., Pembimas Buddha Sulawesi Selatan; pimpinan majelis agama Buddha di Kota Makassar; MNSBDI, MAGABUDHI, Yayasan Buddha Tzu Chi serta pimpinan Dimensi Entertaiment.
Audiensi ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum strategis untuk membahas arah pengembangan Jappa Jokka Cap Go Meh sebagai festival rakyat yang telah menjadi bagian dari identitas Kota Makassar.
Dari Tradisi Komunitas ke Event Kota
Perayaan Cap Go Meh di Makassar bukanlah tradisi baru. Sejak 2004, perayaan ini rutin digelar di Jalan Sulawesi dan dikenal luas sebagai Pasar Malam Cap Go Meh. Pada masa itu, perayaan digagas oleh tokoh-tokoh Tionghoa Makassar sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus perayaan penutup Tahun Baru Imlek.
Seiring berjalannya waktu, perayaan ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti dinamika kota. Salah satu tokoh yang konsisten mendorong transformasi tersebut adalah Dr. Ir. Yonggris., M.M. Di bawah inisiatif dan arahannya, Pasar Malam Cap Go Meh berkembang menjadi Festival Jappa Jokka Cap Go Meh.
Nama “Jappa Jokka” yang berarti “jalan-jalan” dalam bahasa Makassar dan Bugis bukan sekadar penamaan ulang, melainkan penegasan konsep. Festival ini dirancang sebagai ruang publik yang terbuka, inklusif, dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa sekat identitas.
“Cap Go Meh artinya malam ke-15. Ini menandai malam terakhir dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Prosesnya 15 hari, tidak selalu harus pas di hari ke-15 intinya masuk dalam 15 hari itu. Di Makassar kami selalu merayakan di akhir pekan, dengan mempertimbangkan tidak membuat aktivitas masyarkat terganggu, sebab perayaan ini harus dirasakan manfaatnya untuk semua pihak” ujar Dr. Yonggris.




Imlek yang Bertemu Ramadan
Tahun 2026 menjadi momentum yang berbeda bagi penyelenggaraan Jappa Jokka Cap Go Meh. Perayaan Imlek tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Bagi panitia dan Permabudhi, kondisi ini justru dipandang sebagai peluang untuk memperkuat nilai pembauran dan harmoni sosial.
Dr. Yonggris menyampaikan bahwa pertemuan Imlek dan Ramadan bukan sekadar kebetulan kalender, tetapi momentum sosial yang penting.
“Perayaan Imlek tahun ini akan spesial, sebab bertepatan dengan Ramadan. Ini akan berulang dalam enam tahun ke depan. Nuansa pembauran akan semakin terasa, sebab spirit Jappa Jokka Cap Go Meh adalah harmoni sosial,” ungkapnya.
Ia juga memaparkan sejarah panjang perayaan Imlek di Makassar sejak masa transisi kepemimpinan pasca Orde Baru. Dari masa penuh tantangan hingga akhirnya diterima sebagai bagian dari wajah kota.
“Sejak 2004 perayaan Imlek di Makassar rutin digelar di Jalan Sulawesi. Hingga saat ini terus bertransformasi menjadi perayaan yang inklusif, mengokohkan Makassar sebagai kota multikultural,” ujarnya.
Konsep Adaptif Jappa Jokka 2026
Ketua Panitia Jappa Jokka Cap Go Meh 2026, Suzanna, S.E., M.Pd., menjelaskan bahwa festival ini merupakan legasi Permabudhi dalam merawat keberagaman di Kota Makassar. Setiap tahun, konsep kegiatan selalu mengalami penyesuaian tanpa meninggalkan nilai utamanya.
“Setiap tahunnya kami selenggarakan dengan konsep yang terus menyesuaikan, ada adaptasi namun nilai utamanya tetap kuat,” kata Suzanna.
Pada tahun-tahun sebelumnya, Jappa Jokka Cap Go Meh identik dengan prosesi arak-arakan dewa, kirab budaya, atraksi barongsai, bazar kuliner, festival lampion, hingga heritage run. Namun, tahun 2026 menghadirkan penyesuaian signifikan karena bertepatan dengan Ramadan.
“Tahun ini karena bertepatan dengan Ramadan konsepnya akan menyesuaikan. Akan ada tabligh akbar yang akan dihadiri oleh Ustadz Das’ad Latif, pasar murah, lomba patrol Ramadan, ngabuburit, dan buka puasa bersama,” jelasnya.
Selain itu, Suzanna menambahkan bahwa panitia juga memperkuat komitmen lingkungan. Pengelolaan limbah event dilakukan bekerja sama dengan Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Dinas Lingkungan Hidup, serta berbagai instansi agar kegiatan tidak berujung pada penumpukan sampah di TPA.
Prosesi Cap Go Meh tahun ini juga akan dilengkapi dengan kehadiran Tang Tsing dari Manado dan Tu’a-Tu’a Tanah Minahasa, yang diharapkan menambah kekhidmatan dan kemeriahan prosesi perayaan imlek di Kota Makassar.
Dukungan Pemerintah Kota
Menanggapi paparan tersebut, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menegaskan dukungan Pemerintah Kota Makassar terhadap Jappa Jokka Cap Go Meh 2026. Ia menyebut kehadiran pemerintah sebagai bagian dari upaya mensukseskan festival rakyat yang telah menjadi agenda tetap kota.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kota Makassar telah memasukkan perayaan Cap Go Meh 2026 dalam kalender event tahunan yang digelar pada Februari 2026.
“Lebih banyak saya lihat agenda Ramadannya daripada Imleknya,” ujarnya sambil tertawa.
Ia juga menegaskan bahwa Jappa Jokka Cap Go Meh setiap tahunnya selalu menjadi bagian dari perayaan kota yang dinantikan masyarakat.
“Segera kita atur waktu, untuk rapat koordinasi dengan dinas-dinas terkait,” ungkapnya.
Merawat Harmoni Kota
Audiensi ini menegaskan bahwa Jappa Jokka Cap Go Meh bukan sekadar perayaan keagamaan atau budaya, melainkan ruang perjumpaan sosial. Dari Jalan Sulawesi hingga Balai Kota Makassar, festival ini menjadi simbol bahwa keberagaman dapat dirayakan dalam semangat kebersamaan.
Dengan kolaborasi lintas komunitas dan dukungan Pemerintah Kota Makassar, Jappa Jokka Cap Go Meh 2026 diharapkan kembali menghadirkan manfaat sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat. Lebih dari itu, festival ini terus meneguhkan Makassar sebagai kota multikultural—rumah bersama yang dirawat melalui harmoni dan kebersamaan.







