Menu

Mode Gelap
Permabudhi Sulsel Hadiri Buka Puasa Bersama Keuskupan Agung Makassar, Meneguhkan Persaudaraan Lintas Iman Menyelami Tradisi Arak-Arakan Dewa di Jappa Jokka Cap Go Meh Harlah GEMABUDHI ke-40 dan 1 Tahun Kepengurusan GEMABUDHI Sulawesi Selatan: Sosialisasi dan Penuangan Eco Enzyme di Kanal Jongaya Empat Dekade GEMABUDHI: Momentum Transformasi dan Ekspansi Gerakan Pemuda Buddhis dari Daerah ke Nasional Permabudhi Sulsel Dukung Festival Mulia Ramadan, Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi Sosial di Makassar Hangatnya Pertemuan Pemuda Hindu-Buddha: Gemabudhi dan Peradah Sulsel Perkuat Barisan di PAKEMDA

Berita

Cinta Negara Sejak Dini: Menjaga Tanah dan Air, Menjaga Indonesia

badge-check


					Cinta Negara Sejak Dini: Menjaga Tanah dan Air, Menjaga Indonesia Perbesar

Lebih dari 21 sekolah, bersama guru dan orang tua, menyemarakkan Karnaval Merdeka Kerukunan dalam rangka HUT ke-80 Republik Indonesia.Langkah-langkah kecil berpadu warna-warni bendera merah putih, seragam adat, dan kostum profesi menghiasi Anjungan Pantai Losari, Rabu (13/8/2025).

Acara ini terselenggara berkat kolaborasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Selatan, Kanwil Kemenag Sulsel, Muslimat NU, kepala sekolah sahabat, dan PC Iqra Saribattang. Tidak sekadar pawai, karnaval ini menjadi ruang pembelajaran nyata tentang hidup berdampingan dalam perbedaan sejak dini.

H. Aminuddin, S.Ag., M.Ag, Kepala Bagian TU Kanwil Kemenag Sulsel, menegaskan bahwa kemerdekaan tidak akan terasa tanpa kedamaian.

“Kita tanamkan pada anak-anak untuk beranjak dan hidup bersama orang yang berbeda. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi toleran. Toleransi dan kedamaian adalah aspek dari kemerdekaan, karena tanpa damai dan rukun, kemerdekaan tidak bisa dirasakan,” ujarnya.

Bagi Ketua Permabudhi Sulsel, perayaan ini adalah kesempatan membangkitkan kecintaan pada bangsa melalui pemaknaan yang mendalam, bukan hanya rutinitas upacara.

“Cinta kepada negara wajib dimulai sejak usia dini. Mencintai negara berarti mencintai bangsanya, mencintai masyarakatnya, mencintai hasil alamnya, dan lingkungannya. Anak-anak perlu memahami bahwa tanah dan air Indonesia adalah bagian dari diri mereka. Menjaganya berarti mencintai hidup mereka sendiri,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa setiap seremoni, mulai dari upacara bendera hingga perayaan 17 Agustus, seharusnya menambah kebijaksanaan anak-anak. “Mereka harus sadar bahwa mencintai negara sama dengan menjaga tanah dan airnya, tidak mencemarinya, dan melestarikan lingkungan,” lanjutnya.

Ketua Panitia, Dr. Hj. Mardyawari Yunus, M.A, menyampaikan bahwa keterlibatan keluarga menjadi kunci dalam pendidikan karakter kebangsaan.

“Kami melibatkan orang tua dan murid untuk menyemarakkan kemerdekaan sebagai bentuk pendidikan moderasi sejak dini. Cinta damai, cinta negara, cinta budaya, dan cinta kerukunan menjadi nilai yang di tanamkan bersama,” Tutupnya.

Karnaval berakhir dengan beragam penampilan yang membangkitkan semangat nasionalisme, menyiratkan pesan bahwa kemerdekaan sejati adalah kebebasan yang damai, rukun, dan dilandasi cinta mendalam pada tanah air. Riuh gembira anak-anak, kibaran bendera, serta lantunan musik kemerdekaan menjadi penutup yang indah, meninggalkan jejak semangat kebersamaan yang akan terus hidup hingga masa depan.

Baca Lainnya

Permabudhi Sulsel Hadiri Buka Puasa Bersama Keuskupan Agung Makassar, Meneguhkan Persaudaraan Lintas Iman

9 Maret 2026 - 12:58 WITA

Menyelami Tradisi Arak-Arakan Dewa di Jappa Jokka Cap Go Meh

9 Maret 2026 - 07:04 WITA

Harlah GEMABUDHI ke-40 dan 1 Tahun Kepengurusan GEMABUDHI Sulawesi Selatan: Sosialisasi dan Penuangan Eco Enzyme di Kanal Jongaya

8 Maret 2026 - 12:01 WITA

Empat Dekade GEMABUDHI: Momentum Transformasi dan Ekspansi Gerakan Pemuda Buddhis dari Daerah ke Nasional

19 Februari 2026 - 03:24 WITA

Permabudhi Sulsel Dukung Festival Mulia Ramadan, Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi Sosial di Makassar

19 Februari 2026 - 02:49 WITA

Trending di Berita