Menu

Mode Gelap
Kue Bulan dalam “POV Buddhis”, dari Tradisi hingga Praktik Dhamma Hadiri Jumat Curhat Polda Sulsel, PERMABUDHI Makassar Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Jelang Sertijab, PERMABUDHI Makassar Apresiasi Sinergi dengan Polres Pelabuhan Di Hari Perdamaian Internasional, PERMABUDHI Makassar Serukan Damai dengan Bumi PERMABUDHI Sulsel Dukung Pasar Murah Kodaeral VI, Rawat Sinergi untuk Masyarakat Hadiri FGD FLARE, PERMABUDHI Sulsel Konsisten Gaungkan Kesadaran Pangan Berkelanjutan

Berita

Kue Bulan dalam “POV Buddhis”, dari Tradisi hingga Praktik Dhamma

badge-check

Kue Bulan dalam “POV Buddhis”, dari Tradisi hingga Praktik Dhamma Perbesar

Program Mimbar Agama Buddha Pro 1 RRI Makassar membahas tradisi Kue Bulan dari perspektif Buddhis, Selasa (22/9/26). Dalam dialog tersebut, PMy. Hemajayo Thio, rohaniwan Buddhis Sulsel, hadir sebagai narasumber, dengan Eko Setiono, pengurus PERMABUDHI Sulsel, sebagai host.

Pembahasan diawali dari makna Kue Bulan yang identik dengan Festival Pertengahan Musim Gugur. Hemajayo menjelaskan, Kue Bulan merupakan tradisi budaya Tionghoa yang dekat dengan makna kebersamaan dan keluarga.

“Kue Bulan melambangkan kebersamaan, keluarga, berbagi, dan rasa syukur,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bentuk Kue Bulan yang umumnya bulat berkaitan dengan simbol bulan purnama dan konsep tuányuán, yakni berkumpul atau reuni bersama keluarga. Namun, Hemajayo menegaskan bahwa tradisi tersebut bukan bagian dari ajaran pokok agama Buddha.

“Kue Bulan merupakan tradisi budaya Tionghoa, bukan ajaran pokok atau kewajiban agama Buddha,” katanya.

Meski bukan ritual Buddhis, tradisi tersebut tetap dapat menjadi ruang untuk merefleksikan nilai-nilai Dhamma. Menurut Hemajayo, berbagi Kue Bulan dapat dikaitkan dengan mettā, karuṇā, muditā, upekkhā, dan dāna.

“Berbagi Kue Bulan dapat menjadi latihan menumbuhkan cinta kasih dan kebahagiaan bersama,” ujarnya.

Dalam dialog itu, Hemajayo juga mengaitkan kebersamaan keluarga dengan praktik dāna. Menurutnya, memberi tidak selalu dalam bentuk materi.

“Dāna tidak hanya berupa materi, tetapi juga memberikan waktu, perhatian, tenaga, dan kehadiran,” katanya. Ia juga mengajak pendengar melihat perubahan fase bulan sebagai refleksi tentang anicca atau ketidakkekalan.

Menutup dialog, Hemajayo mengingatkan pentingnya menjaga tradisi dengan tetap memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

“Jangan hanya menikmati Kue Bulan, tetapi ambil nilai kebersamaan, cinta kasih, berbagi, dan kebajikan yang terkandung di balik tradisi tersebut,” tutupnya.

Mimbar Agama Buddha merupakan program kolaborasi PERMABUDHI Sulawesi Selatan bersama RRI Pro 1 Makassar untuk menyampaikan pesan, program, dan ajaran Sang Buddha kepada masyarakat luas, khususnya pendengar RRI. Melalui siaran rutin, berbagai topik keagamaan dibahas dengan mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Program Mimbar Agama Buddha RRI Pro 1 Makassar tayang setiap Selasa pukul 20.30 WITA.

Edisi kali ini mengangkat tema “Tradisi Kue Bulan, POV Buddhis”. Rekaman siaran dapat diakses kembali melalui YouTube Pro 1 RRI Makassar.

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Hadiri Jumat Curhat Polda Sulsel, PERMABUDHI Makassar Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

23 September 2026 - 06:28 WITA

Jelang Sertijab, PERMABUDHI Makassar Apresiasi Sinergi dengan Polres Pelabuhan

23 September 2026 - 06:01 WITA

Di Hari Perdamaian Internasional, PERMABUDHI Makassar Serukan Damai dengan Bumi

22 September 2026 - 09:03 WITA

PERMABUDHI Sulsel Dukung Pasar Murah Kodaeral VI, Rawat Sinergi untuk Masyarakat

22 September 2026 - 08:46 WITA

Hadiri FGD FLARE, PERMABUDHI Sulsel Konsisten Gaungkan Kesadaran Pangan Berkelanjutan

18 September 2026 - 09:27 WITA

Trending di Berita