Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Yonggris., M.M menegaskan bahwa makna kepahlawanan sejati tidak selalu diukur dari keberanian mengangkat senjata, tetapi dari keberanian untuk mengangkat kesadaran. Dalam refleksinya pada peringatan Hari Pahlawan 10 November, ia menyebut pahlawan sejati adalah mereka yang memberi tanpa merasa berkorban, berkarya tanpa pamrih, dan menyalakan pelita kebajikan di tengah masyarakat.
“Menjadi pahlawan tidak harus mengangkat senjata, cukup dengan mengangkat kesadaran,” ujarnya, seraya menekankan bahwa nilai-nilai kepahlawanan sejatinya berakar dari kebajikan batin yang tercerahkan.
Menurutnya, kata pahlawan sendiri berasal dari bahasa Sanskerta: phala berarti “buah” dan -wan berarti “orang yang menghasilkan”. Dengan demikian, pahlawan sejati adalah orang yang menghasilkan buah kehidupan yang berharga bagi manusia dan kemanusiaan.
“Namun tidak semua yang berbuat besar dapat disebut pahlawan,” ujarnya, “karena pahlawan sejati memiliki tiga kriteria kebajikan yang tumbuh dari batin yang tercerahkan.”
Tiga kriteria itu adalah mempersembahkan yang terbaik, menghasilkan buah karya yang bermakna, dan memberi dampak signifikan bagi banyak orang. Ia menilai, ketiga hal tersebut tidak hanya menjadi nilai moral, tetapi juga laku spiritual yang sejalan dengan ajaran Buddha.
“Pahlawan sejati tidak berkorban, ia mempersembahkan,” katanya. “Ia memberi bukan karena kehilangan, melainkan karena kelimpahan batin.”
Dalam tradisi Dhamma, itulah makna dāna pāramī : kesempurnaan dalam memberi, yang merupakan wujud tertinggi dari cinta kasih (mettā) dan welas asih (karuṇā).
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa setiap tindakan baik seorang pahlawan sejati selalu meninggalkan phala — buah kebajikan yang nyata. “Buah itu bisa berupa gagasan, karya, inspirasi, perubahan, atau keteladanan,” tuturnya. Seperti halnya kusala kamma dalam ajaran Buddha, setiap tindakan baik pasti menghasilkan manfaat, meski pelakunya mungkin tak sempat memetik hasilnya sendiri.
“Ia menanam bukan untuk dirinya, tetapi agar kehidupan ini terus berbuah bagi semua makhluk,” katanya menambahkan.
Ciri terakhir pahlawan sejati, menurutnya, adalah memberi dampak yang meluas bagi kebahagiaan banyak orang. Dalam pandangan Buddhis, semangat itu mencerminkan tekad seorang Bodhisattva : berikrar menolong makhluk lain, membangkitkan kasih, kebijaksanaan, dan harapan di hati manusia.
“Ia menyalakan pelita bukan hanya untuk dirinya, tapi agar dunia tidak lagi berjalan dalam kegelapan,” ujarnya lembut.
Ketua Permabudhi Sulsel kemudian mengajak seluruh umat untuk menyalakan semangat kepahlawanan dari dalam diri sendiri. Bagi dirinya, Hari Pahlawan bukan semata mengenang jasa masa lalu, melainkan momentum memperbarui kesadaran untuk memberi yang terbaik, berkarya dengan tulus, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
“Pahlawan sejati tidak hidup untuk dikenang,” pungkasnya, “tetapi agar kehidupan ini terus berjalan dengan kebenaran, kebajikan, dan cinta kasih.”
Makna Kepahlawanan bagi Kita yang Masih Hidup
Lebih lanjut, Dr. Yonggris menambahkan bahwa kepahlawanan tidak berhenti di makam mereka yang telah gugur. Kepahlawanan sejati adalah kesadaran hidup yang dapat diteruskan dalam kehidupan sehari-hari : di rumah, di tempat kerja, di komunitas, dan di tengah masyarakat.
“Gelar pahlawan memang diberikan kepada mereka yang telah wafat, namun semangat kepahlawanan justru harus dihidupkan oleh kita yang masih bernafas hari ini,” ujarnya.
1. Menjadi Pahlawan bagi Keluarga
Menjadi pahlawan keluarga berarti mempersembahkan cinta dan tanggung jawab tanpa pamrih.
Ia bukan hanya mencari nafkah, tetapi menumbuhkan kasih, membangun keteladanan, dan menjaga harmoni di rumah. Pahlawan keluarga adalah ia yang menghadirkan kehangatan, keteguhan, dan kebahagiaan batin bagi orang-orang yang dikasihinya.
“Setiap persembahan yang walau kecil namun dilakukan dengan cinta yang besar, adalah kepahlawanan di dalam rumah,” tuturnya.
2. Menjadi Pahlawan di Komunitas
Dalam komunitas, pahlawan adalah mereka yang mengutamakan kebersamaan di atas kepentingan pribadi.
Ia berbuat bukan untuk tampil, tetapi untuk menyatukan. Ia menyalakan semangat kerukunan, saling menghormati, dan saling menolong tanpa melihat perbedaan.
“Pahlawan komunitas adalah jembatan, bukan tembok,” ujarnya mengingatkan.
3. Menjadi Pahlawan di Perusahaan
Dalam dunia kerja dan usaha, menjadi pahlawan berarti memberi nilai tambah dengan integritas dan keikhlasan.
Ia bekerja bukan sekadar mencari hasil, tapi membawa manfaat bagi sesama, perusahaan, dan masyarakat.
Ia mempersembahkan kemampuan terbaiknya — dengan etos, semangat, dan hati nurani.
“Setiap karya yang lahir dari hati tulus adalah buah kepahlawanan profesional,” kata Yonggris.
4. Menjadi Pahlawan bagi Masyarakat
Pahlawan di tengah masyarakat adalah mereka yang peduli dan bertindak.
Ia tidak menunggu perubahan, tetapi menjadi perubahan itu sendiri.
Ia hadir membawa harapan, menolong tanpa pamrih, dan menebarkan kebaikan sekecil apa pun.
“Kepahlawanan dimulai ketika kita berhenti bertanya siapa yang akan menolong, dan mulai bertanya apa yang bisa saya lakukan,” ujarnya penuh makna.
Kepahlawanan sebagai Kesadaran
Dr. Yonggris menegaskan bahwa kepahlawanan bukan gelar, melainkan kualitas kesadaran.
“Ia lahir ketika seseorang mempersembahkan yang terbaik dari dirinya, membuahkan karya yang berguna, dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang,” jelasnya.
Itulah makna pahlawan dalam kehidupan modern : menjadi sumber manfaat di mana pun kita berada.
“Kita tidak harus menunggu mati untuk disebut pahlawan,” tutupnya, “karena pahlawan sejati hidup dalam setiap tindakan yang dilandasi cinta dan kesadaran.”






