Menu

Mode Gelap
Permabudhi Sulsel Hadiri Buka Puasa Bersama Keuskupan Agung Makassar, Meneguhkan Persaudaraan Lintas Iman Menyelami Tradisi Arak-Arakan Dewa di Jappa Jokka Cap Go Meh Harlah GEMABUDHI ke-40 dan 1 Tahun Kepengurusan GEMABUDHI Sulawesi Selatan: Sosialisasi dan Penuangan Eco Enzyme di Kanal Jongaya Empat Dekade GEMABUDHI: Momentum Transformasi dan Ekspansi Gerakan Pemuda Buddhis dari Daerah ke Nasional Permabudhi Sulsel Dukung Festival Mulia Ramadan, Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi Sosial di Makassar Hangatnya Pertemuan Pemuda Hindu-Buddha: Gemabudhi dan Peradah Sulsel Perkuat Barisan di PAKEMDA

Berita

Permabudhi Sulsel Rajut Kedamaian Lewat Meditasi dan Doa Bersama untuk Bangsa

badge-check


					Prosesi meditasi dan doa bersama untuk bangsa di Benteng Rotterdam Makassar, (11/05/25). Perbesar

Prosesi meditasi dan doa bersama untuk bangsa di Benteng Rotterdam Makassar, (11/05/25).

Langit malam di atas Benteng Rotterdam, Makassar, tampak tenang saat lilin-lilin kecil mulai menyala satu per satu, membawa kehangatan dan harapan di tengah keramaian yang hening. Suara renungan perlahan mengisi pelataran bersejarah itu, menyatu dalam napas damai para peserta yang duduk bersila. 

Di sinilah, pada Minggu malam (11/5), Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan menggelar Meditasi dan Doa Bersama untuk Bangsa, sebuah tradisi spiritual tahunan dalam rangka menyambut Hari Trisuci Waisak 2569 BE/2025.

Acara yang berlangsung pukul 19.00 hingga 21.00 WITA ini diikuti oleh 120 peserta dari berbagai majelis dan vihara se-Sulawesi Selatan. Di tengah kemegahan sejarah Benteng Rotterdam, umat Buddha berkumpul dalam suasana yang khusyuk dan hangat, menunjukkan bahwa spiritualitas tidak hanya milik ruang ibadah, tetapi juga dapat mengisi ruang-ruang kebangsaan.

Sebelum acara inti dimulai, peserta bersama-sama menikmati Bubur Sujata, melanjutkan tradisi yang kaya makna. Bubur ini bukan sekadar santapan, tapi simbol dari keseimbangan dan welas asih, mengingatkan pada kisah Sujata yang memberi bubur kepada Pertapa Siddhartha sebelum mencapai pencerahan. Sebuah momen sederhana yang sarat makna: kebaikan kecil bisa memberi dampak besar.

Acara dipandu oleh Rama Pandita Hemajayo, dengan sesi renungan dan meditasi dipimpin oleh Samanera Dhammalankaro dari STAB Kertarajasa, Batu, Malang. Dalam renungannya, ia menggugah kesadaran peserta: “Buddha saja yang telah sempurna dalam 10 Parami tetap tekun dalam kebajikan, apalagi kita sebagai manusia yang masih belajar menyempurnakan kebajikan.” Ucapan ini menjadi pengingat kuat bahwa praktik Dhamma adalah perjalanan seumur hidup.

Ketua Permabudhi Sulsel, Dr. Ir. Yonggris, MM., menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama: “Menghayati kembali perjalanan spiritual Buddha dan memetik maknanya untuk transformasi diri; mempererat persatuan antar vihara dan umat; serta menunjukkan semangat nasionalisme sebagai wujud cinta kepada bangsa dan negara.” Inilah bentuk keseimbangan antara spiritualitas dan nasionalisme yang dibangun Permabudhi.

Hadir pula Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Sulsel, Bapak Sumarjo, S.Ag., MM., yang menyampaikan apresiasi dan ucapan Selamat Hari Trisuci Waisak kepada umat. Dalam sambutannya, ia mengajak umat untuk terus menumbuhkan semangat belajar dan mengamalkan Dhamma sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha sekaligus sebagai dasar untuk membangun kehidupan yang damai dan harmonis di tengah keberagaman bangsa.

Puncak kegiatan ditandai dengan penyalaan lilin lima warna oleh para pimpinan majelis, simbol dari kebijaksanaan dan kedamaian universal. Dilanjutkan dengan namaskara, pradaksina, dan meditasi hening bersama, seluruh peserta larut dalam keheningan penuh makna. Tidak ada sekat, tidak ada batas — hanya umat manusia yang bersatu dalam niat baik.

Dengan berakhirnya acara dan saling berjabat tangan sambil mengucapkan “Selamat Hari Trisuci Waisak”, peserta meninggalkan lokasi dengan wajah teduh dan hati ringan. Permabudhi Sulsel kembali menunjukkan bahwa Waisak bukan hanya tentang ritual, tetapi juga ruang refleksi spiritual yang merawat batin dan merajut damai — bukan hanya untuk umat Buddha, tetapi untuk seluruh bangsa.

Baca Lainnya

Permabudhi Sulsel Hadiri Buka Puasa Bersama Keuskupan Agung Makassar, Meneguhkan Persaudaraan Lintas Iman

9 Maret 2026 - 12:58 WITA

Menyelami Tradisi Arak-Arakan Dewa di Jappa Jokka Cap Go Meh

9 Maret 2026 - 07:04 WITA

Harlah GEMABUDHI ke-40 dan 1 Tahun Kepengurusan GEMABUDHI Sulawesi Selatan: Sosialisasi dan Penuangan Eco Enzyme di Kanal Jongaya

8 Maret 2026 - 12:01 WITA

Empat Dekade GEMABUDHI: Momentum Transformasi dan Ekspansi Gerakan Pemuda Buddhis dari Daerah ke Nasional

19 Februari 2026 - 03:24 WITA

Permabudhi Sulsel Dukung Festival Mulia Ramadan, Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi Sosial di Makassar

19 Februari 2026 - 02:49 WITA

Trending di Berita